SinemArt Dihargai karena Berani Bikin Konten Edukasi KDRT Lewat Film Suamiku Lukaku

Film “Suamiku Lukaku” telah menarik perhatian publik dengan menyampaikan isu penting terkait kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Acara preview film ini, yang diadakan di Aula Dr. Ir. Soekarno Universitas Bung Karno, dihadiri oleh banyak tokoh penting yang mengangkat tema ini ke permukaan.

Diskusi yang diadakan setelah pemutaran film bertujuan untuk memberikan kesadaran lebih tentang KDRT. Dalam sesi tersebut, para pembicara membahas langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengatasi masalah ini, serta memberikan dukungan kepada para penyintas.

Pentingnya Menyebarluaskan Kesadaran tentang KDRT

Selama acara, Rektor Universitas Bung Karno, Dr. Ir. Sri Mumpuni Ngesti Rahaju, mengungkapkan bahwa film ini tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media refleksi dan edukasi. Pesan yang disampaikan dalam film perlu didiskusikan lebih lanjut agar dapat mendorong tindakan nyata dalam penanganan KDRT.

Menurutnya, dialog yang dihasilkan setelah menonton film akan membangun empati dan keberanian untuk bersuara. Ini menunjukkan betapa pentingnya keterlibatan semua pihak dalam memerangi KDRT di masyarakat.

Maria Ulfa Anshori, Ketua Komnas Perempuan, juga mengungkapkan kekhawatirannya mengenai tingginya angka kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan setiap tahunnya. Angka tersebut mencakup banyak kasus KDRT, dan penyebab utama yang sering diidentifikasi adalah ideologi patriarki yang masih kental dalam budaya kita.

Peran Film dalam Mendorong Perubahan Sosial

SinemArt, sebagai rumah produksi yang memproduksi film ini, berharap film “Suamiku Lukaku” dapat menjadi alat untuk memecah kesunyian terkait KDRT. Mereka ingin film ini menjadi platform yang efektif untuk membangkitkan kesadaran masyarakat akan isu ini.

David S. Suwarto, Produser Eksekutif dan CEO SinemArt, mengatakan bahwa film ini merupakan upaya untuk membawa perubahan. Dia berharap film ini dapat memberikan solusi bagi para penyintas KDRT dan mendorong orang lain untuk bersuara.

Film ini tidak hanya menampilkan kisah yang realistis, tetapi juga menghadirkan pengalaman emosional yang mendalam bagi para penontonnya. Terlebih, film ini menyentuh aspek-aspek yang selama ini dianggap tabu untuk dibicarakan.

Pentingnya Diskusi Setelah Menonton Film

Walaupun film ini sangat mengangkat tema sensitif, dialog setelah penontonannya sangat diperlukan. Hal ini untuk memastikan bahwa penonton tidak hanya merasa empati, tetapi juga memahami langkah-langkah yang dapat diambil untuk membantu penyintas KDRT.

Pembicara dalam diskusi termasuk aktivis dan advokat yang memiliki latar belakang dalam menangani masalah KDRT. Mereka memberikan wawasan dan informasi yang sangat diperlukan bagi penonton yang ingin terlibat lebih lanjut.

Mereka berusaha menekankan pentingnya tidak hanya mengetahui bahwa KDRT ada, tetapi juga mengetahui bagaimana cara melawannya. Diskusi ini menandai suatu langkah awal yang positif dalam menghadapi masalah ini secara lebih terbuka.

Panduan bagi Perempuan dalam Menghadapi KDRT

Mieke Amalia, salah satu pembicara, berbagi pengalamannya sebagai mantan korban KDRT. Dia menekankan pentingnya tidak terburu-buru dalam menjalani pernikahan dan menekankan perlunya perempuan memiliki kemandirian finansial sebelum berkecimpung dalam hubungan yang serius.

Chika Waode juga mengungkapkan bahwa penting bagi perempuan untuk memahami batasan dalam hubungan mereka. Dia mengalami KDRT psikologis dan menjelaskan bagaimana dia harus mengambil langkah berani untuk mengakhiri situasinya.

Pengalaman para pembicara menambah kekuatan pesan film ini, memberikan dorongan kepada penonton untuk mempertimbangkan keadaan mereka sendiri dengan seksama.

Akhir Kata: Melawan Stigma dan Membangun Kesadaran

Film “Suamiku Lukaku” bukan sekadar hiburan; ia merupakan sebuah dorongan untuk membongkar stigma yang ada mengenai KDRT. Melalui pemutaran film dan diskusi, diharapkan masyarakat menjadi lebih sadar akan masalah ini dan berani mengambil langkah untuk mencari keadilan.

Setiap individu memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi semua, terutama bagi perempuan dan anak-anak. Ketidaktahuan bukanlah pilihan; pendidikan dan kesadaran adalah kunci.

Dengan acara seperti ini, diharapkan banyak orang yang tergerak untuk menjadi agen perubahan dalam masyarakat, mengingat kekerasan dalam rumah tangga harus diberantas demi martabat dan kemanusiaan semua orang.

Share: Facebook Twitter Linkedin