Polemik mengenai harta warisan mendiang Lina Jubaedah semakin memanas, menyentuh isu kesejahteraan anak. Dalam situasi ini, Sule memberikan tanggapannya terhadap klaim Teddy Pardiyana yang mendesak penetapan ahli waris untuk biaya pendidikan anak-anak dari pernikahannya dengan Lina.
Sule menilai bahwa alasan tersebut tampak aneh dan tidak logis. Menurutnya, urusan administrasi sekolah tidak biasanya membutuhkan penetapan warisan sebagai syarat.
“Dia mungkin butuh biaya. Namun, penetapan ahli waris tidak seharusnya menjadi syarat untuk memasukkan anak ke sekolah,” tutur Sule di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, pada Rabu (4/2/2026).
Perselisihan dalam Keluarga dan Implikasinya Terhadap Anak
Sule juga menekankan bahwa anak-anaknya, khususnya Rizky Febian dan Putri Delina, tidak menunjukkan keberatan untuk membantu adik sambung mereka. Meskipun ada perbedaan ayah, Sule berusaha mengajarkan anak-anaknya untuk tetap menyayangi satu sama lain dan tidak menyimpan dendam akibat konflik orang tua.
“Tidak masalah, dia tetap kakak walaupun tidak seayah. Kita harus melihatnya sebagai manusia, bukan hanya dari sakit hati yang ada,” ujarnya. Sulit untuk menghindari rasa sakit, namun Sule mengajak anak-anaknya untuk akur dan saling mengasihi.
Hidup dalam keluarga yang terlibat dalam perselisihan warisan menuntut sikap yang bijaksana. Sule berusaha membangun pemahaman di antara anak-anaknya bahwa diri mereka tidak hanya diukur dari hubungan darah, tetapi juga nilai kasih sayang dan kepedulian antar sesama.
Bagaimana Harta Warisan Menjadi Sumber Ketegangan
Di tengah warisan yang menjadi sumber ketegangan, banyak keluarga mengalami perpecahan. Kasus seperti ini menyoroti pentingnya komunikasi yang sehat antara anggota keluarga dalam menyelesaikan konflik.
Sule memandang bahwa penyelesaian sengketa warisan tidak hanya soal harta, tetapi juga melibatkan perasaan dan ikatan keluarga. Dengan mengedepankan kasih sayang, Sule berharap dapat meredakan ketegangan yang ada.
Menyelesaikan masalah warisan seringkali membutuhkan waktu dan kesabaran. Ketika satu anggota keluarga merasa terpinggirkan, dampaknya dapat meluas tanpa disadari orang lain.
Keluarga sebagai Pondasi di Tengah Perselisihan
Keluarga yang kuat akan mampu menghadapi tantangan dengan lebih baik. Sule berusaha menanamkan nilai-nilai ini kepada anak-anaknya melalui tindakan nyata di tengah keterpurukan situasi.
Melalui pengertian dan dukungan, Sule ingin menggugah kesadaran akan pentingnya menjaga keharmonisan. Dukungan tersebut bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi lebih dari itu, yang berwujud emosional dan spiritual.
Ketika konflik meruncing, sering kali pihak-pihak tertentu merasa tertekan. Oleh karena itu, penting bagi setiap anggota keluarga untuk saling menyemangati dan memperkuat hubungan yang ada.
Menjaga Kehangatan Keluarga di Tengah Masalah Hukum
Tantangan hukum yang muncul akibat perselisihan warisan seringkali menjauhkan anggota keluarga satu sama lain. Dalam konteks ini, Sule berusaha untuk tidak membiarkan masalah hukum menghancurkan kehangatan keluarga.
Sule memahami bahwa dalam proses hukum, emosi dapat menguasai pikiran. Maka dari itu, penting bagi setiap orang untuk memberikan ruang bagi emosi positif dalam menyelesaikan konflik.
Dengan menjaga komunikasi terbuka, Sule ingin memastikan bahwa setiap anggota merasa dihargai dalam proses tersebut. Hal ini penting untuk mencegah tumbuhnya permusuhan yang lebih dalam.
